Konveksi Baju Toga Wisuda Sarjana

Untuk dapat tampil sempuran di hari wisuda memang sangat banyak sekali syaratnya terlebih bagi kaum wanita karena akan direpotkan dengan berbagai urusan mulai dari urusan make up, kebaya, foto studio hingga baju wisuda. Kami konveksi baju toga wisuda sarjana hadir berniat untuk membantu anda dan mengurangi kerepotan menjelang wisuda, kami sebagai penyedia baju toga wisuda telah membuat banyak sekali pesanan yang datang dari seluruh penjuru nusantara. Kami disini memiliki banyak sekali pelanggan setia hingga pelanggan baru, itu semua kami dapatkan karena totalitas kami dalam memberikan pelayanan. konveksi seragam

Konveksi kami merupakan sebuah konveksi menyediakan jasa membuat berbagai jenis baju toga wisuda untuk anda, nah bagi anda yang minat untuk melakukan kerjasama dengan kami maka bisa ikuti langkah-langkah berikut ini :

  1. Lakukan pemesanan, dapat mendatangi tempat kami langsung atau melalui telefon
  2. Pilih jenis bahan yang diinginkan
  3. Berikan kami keterangan model baju toga wisuda yang anda inginkan sesuai dengan universitas anda
  4. Berikan kami keterangan ukuran badan yang anda inginkan
  5. Agar pesanan anda dapat dibuat maka bayarlah terlebih dahulu uang muka sebesar 50%
  6. Ketika pesanan telah jadi maka kami akan menghubungi anda dan anda wajib melunasi kekurangan biaya setelah itu anda dipersilahkan untuk membawa pulang baju toga wisuda pesanan anda.
  7. Segera beritahu kami jika ada yang kurang pas atas produk yang kami buat, maka kami akan segera melakukan perbaikan

Cara yang terbilang cukup mudah untuk mendapatkan baju toga wisuda anda, bersama kami konveksi baju toga wisuda sarajana maka anda berhak mendapatkan baju toga wisuda dengan  kualitas TERBAIK, harga yang SANGAT MURAH, deadline TEPAT WAKTU, pelayanan yang RAMAH, hingga anda berhak mendapatkan POTONGAN HARGA jika anda memesan dalam jumlah yang cukup banyak. Untuk melakukan pemesanan atau jika anda ingin menanyakan lebih jauh tentang kami maka anda dapat mendatangi tempat kami atau menghubungi kami melalui telefon, kami tunggu pesanan anda.

Kain Itu Bertengger Di Kepalaku

Mereka selalu bertanya apa makna diriku mengenakan penutup kepala ini. Apa aku bermimpi akan sesuatu, apa aku telah ber-nazar untuk mengenakannya, apa yang mengilhamiku untuk memakainya…?Yah, kain penutup kepala ini yang dikenal dengan sebutan jilbab ataupun kerudung yang telah menemaniku selama dua tahun ini, diawal kehadirannya menimbulkan begitu banyak tanya perihal mengapa aku mau mengenakannya.

hipwee.com

Dan aku selalu menjawab sekenanya…”Nekat aja…”Mungkin suatu jawaban yang cukup membingungkan bagi pihak yang menanyakannya dengan serius, karena pasti bila mereka menanyakannya pada orang lain mungkin ada jawaban bererot yang memang mereka telah tunggu-tunggu.

Entah itu mereka akan bercerita bahwa telah punya niatan sebelumnya, entah mereka terilhami lewat mimpi (seperti seorang temanku yang mendapatkan mimpi itu, namun masih sulit merealisasikannya. Hehehe, maap ya diloncattin…!!), dan alasan-alasan religius yang cukup fantastis lainnya.Lingkungan beranggapan, orang yang telah mengenakan penutup kepala itu atau jilbab merupakan orang-orang yang telah mempunyai tingkatan keimanan yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak. Dan adanya sebuah persepsi bahwa orang berjilbab itu merupakan orang yang lemah-lembut dan memiliki kaidah-kaidah kesopanan yang harus ada pada orang-orang yang berjilbab.

Mungkin ada benarnya…tapi bukankah jilbab itu hanya bagian dari cara berpakaian?Sebelum berjilbab, aku pernah dipandang cukup sinis karena berada dilingkungan yang delapan puluh persen mengenakan jilbab sedangkan aku memakai kemeja setengah lengan dengan celana jeans andalanku.Salah seorang dari mereka, melihatku begitu rupa seperti ingin mengatakan bahwa aku bukan bagian dari mereka. Even aku juga seorang muslim…Walau aku yang biasanya cukup cuek, tapi entah mengapa ingatanku akan tatapan seperti itu masih saja membayangiku, apa karena aku tidak mengenakkan jilbab maka ia yang berjilbab dapat memandangku seperti sesuatu yang hina.Untuk hal ini, aku cukup membenci dan sangat menyayangkan bila ada orang yang berjilbab namun memberikan tatapan yang merendahkan orang lain hanya karena dia tidak berjilbab.

Aku pun bertanya dalam diri, apa orang yang berjilbab sudah pasti memegang tiket ke surga? Jawabannya mungkin saja iya mungkin saja tidak. Jilbab memang merupakan suatu kewajiban bagi seorang wanita muslim dan tidak bisa ditawar-tawar lagi, aku pun mengerti itu.Tapi, aku pun salah satu orang yang memang butuh proses yang cukup panjang untuk dapat ketahap tersebut. Alasanku yang mendasar aku merasa tidak pantas berjilbab apalagi bila mengingat dosa-dosa yang telah kulakukan, aku merasa kotor. Aku pun juga dihinggapi beribu ketakutan. Dan porsinya yang paling tinggi yaitu ketika menyadari bahwa ternyata aku termakan persepsiku sendiri.

Ketakutanku, seperti apa aku pantas berjilbab? Aku tipekal orang yang ‘gak bisa diam, cuek, bicara sekenanya dan punya teman-teman cowok yang cukup aneh bin ajaib. Bagaimana nanti orang memandangku? Berjilbab kok temannya cowok semua gitu…, berjilbab kok naek-naek pager…, berjilbab kok kaya preman…(hihihi…). Ada seorang pria teman diskusiku semasa skripsi lalu menanyakan, “Kalo menurut pendapat lo De (ade panggilan sayang teman dekat di masa kuliah), orang yang pake jilbab gaul itu gimana?”.Secara jujur di batinku sebenarnya, aku pun juga merasa miris dengan beberapa yang memakai jilbab yang menimbul pandangan negatif. Ada yang pakai jilbab bajunya ketat-lah, tembus pandang-lah, terkadang pakai jilbab tapi rambutnya tidak dibungkus ciput (penutup rambut didalam jilbab) jadi berkibarlah rambutnya, dan lain sebagainya. Namun, saat pertanyaan itu terlontar aku memberi jawaban sebagai seorang pemula dalam berjilbab. Walau gerah ngeliat kriteria jilbab gaul diatas, tapi pada dasarnya mereka sedang belajar untuk paling tidak menjalankan perintah yang diwajibkan bagi seorang muslimah. Dan kita hanya bisa mendoakan semoga mereka untuk selanjutnya mau mencari tahu perihal memakai jilbab yang syar’i. Karena aku pun masih belajar untuk ke tahap itu dan mudah-mudahan aku tidak termasuk dalam jilbab gaul yang disebut tadi. Memulai sesuatu yang baik, seperti memakai jilbab tidak terlalu membutuhkan usaha yang terlalu keras. Layaknya diriku memakai jilbab karena merasa sudah saatnya dan kenekatan yang cukup tinggi, maka terlaksanalah kewajiban itu.

Namun setelah itu banyak pe-er yang menumpuk setelah proses kenekatan mengenakan jilbab, paling minim yang dapat dilakukan jadikan dirimu pembawa kebaikan dalam tiap kehadiranmu dalam suatu kelompok, tempat, dan lingkungan. Itu yang masih kucoba bangun untuk diriku sendiri.

Dan aku pun juga harus belajar walau sudah memakai jilbab aku selalu menampar keras untuk mengatakan pada diri sendiri untuk tidak merasa lebih suci, lebih soleha, lebih tinggi dari saudara-saudaraku baik yang seiman maupun tidak. Karena aku belum tentu lebih baik dari mereka.

Aku hanya terus mencoba Menjadi Lebih Baik Dari Kemarin, walau hanya setitik demi setitik perkembangannya…

Sumber: danifin.net