Keris Lombok

keris lombok

Ada banyak KERIS di Lombok dan Sumbawa. Anda ingin mencari bentuk dan gaya di sini, “kata Syafari Habibi, penasihat Selaparang-Mandalika Keris, penggemar kerusuhan masyarakat di Mataram, Nusa Tenggara Barat, misalnya 50 anggota kelompok ummah rata-rata memiliki keris 50-100, beberapa di antaranya. 300 kris.

“Jumlahnya hanya bagian dari total keris yang masih tersimpan oleh masyarakat, belum lagi keris yang mengubah pemiliknya di Lombok menjadi kolektor domestik dan asing,” kata Habibi, namun bagaimana dengan sejarah dan asal usul keris, baik yang berasal dari daerah lain, ada penguasa keris di NTB, tidak ada dokumentasi tertulis sebagai referensi Apa pusaka kekaisaran tanpa tuan? Dalam bentuk dan corak buku Keris Nusa Tenggara Barat yang diterbitkan oleh Museum Negara NTB dikatakan, gaya kerisnya mirip dengan gaya Kris Bali, Samawa Samawa Samawa Samawa di Kabupaten Sumbawa) dan etnis Mbojo (Dompu dan Bima) sebanding dengan gaya Kris. Kris Bugis Makassar, Sulawesi Selatan Gaya kr yang berbeda dianggap sebagai dua jalur dimana minggu keratin menuju NTB. Dari utara melalui Bugis Makassar ke Sumbawa, barat datang via Bali ke Lombok.

Ini mungkin berlangsung setelah era runtuhnya Majapahit (abad XV), sehingga Lombok dan Sumbawa menjadi arena perebutan kekuasaan. Jumlah keris yang ditemukan di Lombok bisa menjadi warisan pejuang era penyitaan kekuasaan dan kemudian diawetkan dan dirawat untuk pemiliknya. Keris-keris yang semula menjadi senjata perang yang berakulturasi dengan budaya lokal, seperti pakaian pelengkap dan kebiasaan pernikahan lainnya. Istilah selep / nyelep dan sikepep / nyikep (bahasa Sasak) atau tergelincir di keris pinggang adalah bukti bahwa kerisnya tidak asing bagi semua lapisan masyarakat. Sebuah petunjuk, keris yang ditemukan di Lombok sepanjang 58-71 cm (cm), sementara keris yang ditemukan di Sumbawa panjangnya 34-51 cm. Berbeda dengan keris Jawa, panjangnya 49-51 cm.

Istilah ganja, pesi, peletan, pamor dan dhapur di keris Jawa sama dengan keris Lombok, meski namanya menggunakan bahasa daerah, Sasak. Pamor (motif pada daun keris) nasi tumpah (Sasak), misalnya identik dengan wutah wos (jawa), pamor aik ngelek atau banyu mili. Habibi mengatakan bahwa tidak ada keratin di Lombok karena penguasa saat itu bisa membawa tuan dari luar Lombok. Saat tuannya meninggal, ia tidak sempat mengurangi pengetahuannya. “Yang jelas di keris Lombok menunjuk pegem (lembaran) Bali-Lombok atau Lombok-Bali,” katanya.

referensi : jual keris , lazada.co.id